Ayo, Siaga Bencana! (bagian 1)


Oleh: Rani Sawitri

Wajah bumi pertiwi seringkali tampak sendu. Serangkaian bencana alam silih berganti berdatangan di bumi Indonesia. Mulai dari tsunami tahun 2004 yang menelan 200.000 korban, disusul gempabumi Jogjakarta, Tasikmalaya, Padang dan baru-baru ini berkekuatan 7,1 SR melanda Kabupaten Biak, Papua. Tak hanya gempabumi yang populer di negara kita, banjir dan tanah longsor seakan-akan menjadi langganan di wilayah Indonesia. Ternyata wilayah Indonesia merupakan wilayah yang cukup rawan terhadap bencana alam. Kepulauan Nusantara yang berada dalam zona tektonik dan gunung sangat aktif menyebabkan wilayah ini sangat rawan bahaya goncangan gempabumi, letusan gunung berapi dan tsunami. Jika ditilik 5 tahun belakangan ini, Indonesia sering dihantam bencana. Ditambah dengan pesatnya pembangunan dan pertumbuhan penduduk yang tinggi, menghasilkan banyak bencana seperti kebakaran kota dan hutan, polusi udara, kerusakan lingkungan dan ancaman sosial ekonomi.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Bersikap apatis terhadap bencana? Sepertinya hal tersebut bukanlah suatu tindakan yang mencerminkan kepedualian terhadap sekitar. Saatnya memang warga Indonesia bergerak untuk peduli terhadap bencana. ”Sudah, saya sudah peduli dengan memberikan bantuan kepada korban bencana.” Bukan itu yang dimaksud, akan tetapi mulailah dari sekarang kita dapat bersama-sama menciptakan budaya aman dalam kehidupan sehari-hari kita. Tidak hanya sedia payung sebelum hujan atau memakai helm jika bepergian menggunakan sepeda motor, terhadap bencana-pun kita juga harus bersiap diri alias siaga untuk mengurangi resiko terhadap bahaya bencana, seperti yang termaktub dalam Kerangka Aksi Hyogo.

Apa dan bagaimana kita memulai untuk menciptakan budaya aman? Dalam bagian ini, kita akan berkenalan dahulu tentang kebencanaan. Bertujuan untuk memahami arti ‘bencana’ serta adakah perbedaan arti ‘bencana’ dan ‘bahaya?’ Seperti kita ketahui, bahaya sering diartikan sebagai ancaman/ resiko yang disebabkan oleh manusia atau alam sehingga mengakibatkan kerusakan. Ada juga yang mendefinisikan bahaya sebagai suatu fenomena, substansi atau kondisi yang memiliki potensi menyebabkan gangguan/ kerusakan terhadap infrastruktur, pelayanan, manusia, harta benda serta lingkungan. Sedangkan fenomena alam adalah suatu bentukan/ morfologi yang muncul dari alam secara alami bukan karena tindakan manusia dan dapat menjadi daya tarik alam. Contohnya adalah gempabumi, gerhana bulan, dll.

Apakah suatu fenomena alam yang terjadi atau bahaya dapat dikatakan sebagai bencana?

Bencana dapat dikatakan sebagai bahaya yang menyebabkan kerugian dan kehancuran besar yang berimbas pada masyarakat yang tidak memiliki kemampuan untuk menghadapinya. Dengan kata lain, bencana adalah gangguan serius terhadap fungsi masyarakat yang menyebabkan kerugian meluas pada kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi/ lingkungan dan aset kehidupan pada umumnya dam melampaui kemampuan masyarakat yang terkena dampak untuk menghadapinya dengan sumber daya yang dimiliki sendiri, baik yang terjadi secara tiba-tiba maupun perlahan.

Menurut UU no 24 tahun 2007, Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Jadi fenomena alam dapat dikatakan sebagai bencana apabila: Menyebabkan kehilangan jiwa dalam jumlah besar; menyebabkan kerusakan sarana dan infrastuktur penting dalam jumlah besar; menyebabkan kelumpuhan sosial – ekonomi di masyarakat; masyarakat dan aparat tidak mampu menyelesaikan permasalahan ini secara mandiri.

Menurut versi umum, bencana bisa dikatakan sebagai:

  • Bencana alam yang didominasi oleh alam
  • Bencana alam yang ada intervensi/ campur tangan manusia
  • Bencana bukan alam (akibat perilaku manusia) yang didominasi oleh campur tangan manusia
  • Bencana bukan alam (bencana manusia) yang diintervensi oleh alam dan manusia

Faktor-faktor apa saja penyebab terjadinya bencana?

  • Rusaknya lingkungan
  • Kemiskinan
  • Pertumbuhan penduduk
  • Perpindahan penduduk yang tidak merata
  • Konflik dan perang
  • Kurangnya kesadaran dan informasi

Dari beberapa faktor di atas kurangnya kesadaran dan informasi tentang kebencanaan adalah salah satu dari alasan mengapa pengurangan resiko bencana itu penting. Pengurangan Resiko Bencana (PRB) dilakukan untuk mengurangi dampak buruk yang mungkin tibul, terutama dilakukan dalam situasi sedang tidak terjadi bencana.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan terkait PRB:

  • Kesiapsiagaan; yaitu upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian langkah-langkah kegiatan yang tepat, efektif dan efisien. Semisal penyiapan sarana komunikasi, pos komando, penyediaan sarana evakuasi
  • Mitigasi; merupakan upaya yang dilakukan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana. Hal – hal yang bisa kita lakukan seperti mengidentifikasi bahaya, kerentanan, dan pendukung dari suatu wilayah atau membuat peta bahaya.
  • Pencegahan; merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana (jika mungkin dengan meniadakan bahaya). Misalkan seperti melarang pembukaan hutan untuk pemukiman/ perkebunan, tidak menebang pohon sembarang, pembuangan sampah pada tempat yang telah disediakan, melarang penambangan liar yang dapat mengakibatkan longsor, dll.
  • Peringatan dini, yaitu upaya untuk memberikan peringatan tentang kemungkinan terjadinya bencana. Untuk pemberian peringatan ini harus dapat dijangkau oleh masyarakat sekitar, segera, bersifat resmi dan tegas tidak membingungkan.

Dari ke-empat hal tersebut, di perlukan adanya “Kesadaran Publik” yang merupakan proses yang menjadikan masyarakat yang tinggal di daerah berbahaya mengetahui dan menyadari bahwa mereka:

  • Tinggal di area beresiko
  • Mengerti bahaya spesifik yang harus dihadapi
  • Mengetahui tanda-tanda bahaya yang ada
  • Mampu melakukan tindakan tepat untuk melindungi hidup serta mengurangi kerusakan aset.

Karena tujuan dari kesadaran publik ini adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat bahaya, alam sekitar serta dampak yang terjadi dan meningkatkan kemampuan dalam tindakan mitigasi serta kesiapsiagaan yang terjadi.

Salah satu bentuk “Kesadaran Publik” dapat diimplementasikan mulai dari tingkat dasar atau usia dini, yaitu dengan pendidikan Pengurangan Resiko Bencana yang akan dibahas di bagian 2.

About these ads

One Response

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: