Udara Indonesia Semakin Kotor


Polusi 2

kondisi udara Indonesia kian memprihantinkan. Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), pencemaran udara di Indonesia, khususnya Jakarta telah mengalami tingkat yang mengkhawatirkan dibandingkan dengan standar WHO.

PolusiBerdasarkan data yang ada, total estimasi pollutant CO yang diestimasikan dari seluruh aktivitas di Kota Jakarta adalah sekitar 686,864 ton per-tahun atau 48,6 persen dari jumlah emisi lima pollutant. Penyebab dari pencemaran udara di Jakarta itu sekitar 80 persen berasal dari sektor transportasi, dan 20 persen industri serta limbah domestik. Sedangkan emisi karbon akibat deforestasi dan degradasi hutan sebesar 20 persen.

Polusi Jakarta

Staf ahli Menteri kehutanan bidang lingkungan, mengatakan bahwa pencemaran paling berat terjadi di Jakarta dibandingkan dengan Tokyo, Beijing, Seoul, Taipei, Bangkok, Kuala Lumpur dan Manila.

Kebakaran hutan

Tak hanya, kondisi udara yang kian memprihatinkan. Kelestarian beberapa satwa langka seperti Harimau Sumatera dan Orangutan Kalimatan Barat juga kian terancam. Jumlah orangutan liar di Kalbar diperkirakan berkurang 50 persen dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Pembalakan liar, kebakaran hutan dan konversi hutan untuk perkebunan skala besar, menjadi faktor utama yang mengancam keberadaan populasi orangutan liar di alam.

“Indonesia.. sampai kapankah bertahan kekayaanmu???”

6 thoughts on “Udara Indonesia Semakin Kotor”

  1. kami ingin tanya kan tetang pembakaran hutan di sumatera barat
    kenapa sampai bisa terjadi pembakaran hutan sebesar mungkin begitu
    coba anda jelaskan tentang pembakaran itu??????????????

    1. kebakaran hutansecara umum disebabkan oleh hal :
      1. aktifitas alam
      -petir, -angin pada musim kemarau, dll
      2. aktifitas manusia
      kecerobohan mansusia, dan pembakaran pada pembukaan lahan, dll.

      di sumatera barat kemungkinan kebakaran Terjadi Akibat degradasi lingkungan sebagai akibat dari pemberian izin pemanfaatan ruang pada kawasan yang berkategori lindung menurut kepres 32 tahun 1990, PP 47 tahun 1997 dan PP 26 tahun 2008.

      Jumlah Titik api yang menimbulkan asap berada pada kawasan bergambut pada periode 200-2008 dengan jumlah titik api 39.813 atau 69,76% dari total titik api.

      Penyebab dari kebakaran pada kawasan bergambut terjadi karena pembuatan drainase skala besar, sehingga mengganggu keseimbangan hidrologi pada kawasan gambut pada musim kemarau.

      Terjadinya kebakaran berulang setiap tahun mengindikasikan bahwa pengelolaan kawasan bergambut gagal dikelola sebagai kawasan budidaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s