Elang Ular Bido “Permata” Pegunungan Seribu Yang Kian Meredup


Pegunungan Seribu merupakan salah satu Zona dari tiga Zona di daerah Kabupaten Gunungkidul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Zona Pegunungan Seribu ini merupakan pusat daerah wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul, seperti Pantai Baron, Kukup, Drini, Siung, Sundak, dan masih banyak lagi.

Pegunungan Seribu merupakan daerah karst yang sangat berbeda dengan daerah lain seperti pegunungan ataupun hutan. Daerah karst merupakan daerah yang ekstrim dengan kondisi lingkungan yang tidak biasa/normal. Daerah dengan curah hujan rendah, suhu yang tinggi  dan lapisan tanah yang tipis menyebabkan sedikitnya vegetasi/tumbuhan yang mampu hidup. Hal ini pula yang mengakibatkan sedikitnya burung pemangsa yang mampu hidup disana. Namun ada beberapa keistimewaan dari daerah karst yang sangat mendukung untuk hidup beberapa burung pemangsa. Banyaknya gua sebagai habitat atau tempat berlindung beberapa hewan seperti kelelawar, burung kecil seperti wallet, ular, bahkan tikus mampu berperan sebagai sumber makanan yang cukup bagi burung-raptor. Salah satu burung pemangsa yang mampu hidup di Gunungkidul adalah Elang Ular Bido.

Salah satu burung pemangsa yang mampu hidup di Gunungkidul adalah Elang Ular Bido.

Dokumentasi : Swiss Winnasis

Klasifikasi : Pyllum : Chordata, Classis : Aves, Ordo : Falconiformes, Family  : Accipitridae, Genus : Spilornis, Spesies : Spilornis cheela bido

Elang Ular Bido merupakan salah satu dari sekian banyak burung yang masuk dalam daftar burung yang dilindungi. Elang Ular Bido (Spilornis cheela bido) merupakan salah satu sub spesies dari keseluruhan 21 sub speies Elang Ular (Spilornis cheela) yang ada didunia. Elang ini dapat ditemukan di Jawa dan Bali dengan persebaran yang cukup tinggi dan dapat ditemukan baik di daerah dataran rendah, pantai, sampai pegunungan. Biasanya membuat sarang pada pohon yang rendah sampai tinggi mulai dari ketinggian 6 meter sampai dengan 25 meter atau lebih.

Elang ini juga lebih memilih habitat dengan jumlah makanan yang cukup, walaupun harus berdampingan dengan tempat aktivitas manusia atau jalan raya sekalipun. Hal ini dimungkinkan karena pembukaan lahan yang sangat cepat oleh manusia, yang memaksa mereka untuk beradaptasi dengan aktivitas manusia. Jadi jangan kaget ketika menemukan sarang Elang Ular Bido atau sejenisnya bersarang disamping jalan atau bahkan diladang.

Di Zona Pegunungan Seribu terdapat ± empat pasang Elang Ular Bido (termonitor). Tingkat reproduksinyapun cukup tinggi, dimana elang ini mampu bererproduksi setiap tahun. Dalam beberapa tahun terakhir mampu bereproduksi (bertelur dan menetas) dengan baik di daerah ini, namun sangat disayangkan perburuan Elang Ular Bido yang cukup tinggi membuat anakan (eaglet) tidak sempat menikmati kehidupannya dialam bebas.

Anakan (eaglet) biasanya diambil para pemburu ketika dia beranjak terbang dengan harapan bila dipelihara dari kecil akan lebih mudah jinak. Dari informasi para pemburu, seekor anak Elang Ular Bido dapat dijual sampai harga Rp 200.000,-. Para pembeli biasanya merupakan orang-orang kaya atau orang-orang yang punya kedudukan, misalnya para pejabat dan pemilik hotel atau penginapan didaerah wisata. Mereka beranggapan, dengan memiliki atau memelihara burung ini (Elang Ular Bido) prestise mereka akan bertambah. Elang ini juga di jual di daerah sekitarnya seperti di Jogjakarta.

Memang sangat disayangkan perburuan yang menjamur disana. Namun ada secercah harapan ketika mulai muncul orang-orang yang peduli dengan daerah Gunungkidul, juga munculnya generasi muda yang punya kemauan dan mampu mengabdikan kemampuannya untuk menjaga dan mengembangkan daerahnya.

Beberapa perguruan tinggi di sekitar Gunungkidul dan Yogyakarta sudah mulai melakukan penelitian didaerah ini, begitu pula beberapa kelompok pemuda seperti PPA (Pemuda Pecinta Alam) Gunungkidul mulai melakukan kegiatan-kegiatan untuk melindungi keanekaragaman hayati di Gunungkidul khususnya Elang Ular Bido.

18 thoughts on “Elang Ular Bido “Permata” Pegunungan Seribu Yang Kian Meredup”

  1. wah top rup,..tinggal ditulis ning kukila,..dadi publikasine sisan kudu lengkap,..khan wis ana ulo ne dedrelaphis pictus tho

  2. padahal kalo dipikir2 lagi, wilayah hutan terluas di jogjakarta itu kan di gunung kidul kan? bukan merapi atau yang lainnya…
    keep in great work bro…

    salam

  3. Saya terkesan sekali di habitat yg kurang beragam banyak penghuni nya. Selamat sudah menemukan sarang elang ular bido dan memantau pembiakannya. Mudah2an masyarakat sekitar bisa diajak bekerjasama oleh pecinta alam/lingkungan untuk menjaga populasi elang ular disitu. Apakah pengamatannya rutin? Sebaiknya kalau data ilmiahnya memadai dipublikasi di jurnal ilmiah. Atau ada skripsi mahasiswa? bagus kalau ada. Kalau mau dibantu menulis untuk jurnal silahkan kontak saja.
    salam,

  4. klo tmn2 ada acara birdwatching di jogja kabar2i dong, bbrp waktu lalu aq jg liat elang di daerah patuk gunungkidul, dari identifikasi sayap yg lebih menjari dan ekor polos hitam agak panjang, kyknya sih elang hitam…

    irwanjasmoro@gmail.com

  5. waaa,,kereeennn,,selama nie kalo ko gunung kidul gak pernah nontoni ke ataz tp tenyata dsana banyak bido,,,thanx 4 info,,,,
    ehm seneng liat gambar sarang bido nya,,,,
    selain bido da jenis elang lain gak???hitam misal???

  6. dikasih temen elang ular bido, tapi gk tau cara ngerawatnya, mau kasih ke bksda jatim nggak tau alamatnya, mohon pencerahannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s