Tlusap-tlusup Kotagede


Oleh : Rani sawitri

dok : vallaura

Memperingati 4 Tahun Pascagempa Yogyakarta yang mengambil tema “Tangguh Menuju Kemandirian Bersama.” Komunitas B2W Jogja dengan beberapa lembaga masyarakat dan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia mengadakan kegiatan road-bike tlusap-tlusup Pusaka Kotagede. Konsep acara ini selain untuk memperingati 4 tahun gempa dengan membagikan pamflet agenda peringatan, juga sebagai ajang pengenalan lebih dalam tempat-tempat bersejarah yang ada di Kotagede. Kenapa dipilih Kotagede? Ternyata tidak semua orang termasuk saya yang lahir, kecil dan besar di Jogja mengenal dekat tentang seluk beluk Kotagede yang merupakan salah satu kota tua di Jogja. Walhasil, tertariklah saya untuk ikut acara ini, selain menambah wawasan tentang kotagede, setidaknya tidak “malu-maluin” jika saudara atau rekan saya dari luar kota ingin diajak berkeliling kotagede karena kita sudah tau dulu lokasi-lokasi wisata disana.

Dok : Chie

Setahu saya, Kotagede dari dulu hanya terkenal dengan kerajinan perak dan makanan khas-nya yang berupa Kipo, Wingko dan Yangko. Ternyata, setelah mengikuti kegiatan ini seperti membuka wacana baru tentang apa dan siapa kotagede itu? Kotagede yang merupakan kawasan bekas peninggalan Kerajaan Mataram Islam pada abad XVI Masehi dengan luas wilayah 3.070 m2, memiliki banyak rumah-rumah tradisional yang masih berdiri hingga sekarang. Namun, ketika gempa 27 Mei 2006 lalu, beberapa bangunan tradisional yang notabene adalah bangunan bersejarah mengalami kerusakan dari ringan hingga berat. Tidak ingin bangunan-bangunan bersejarah tersebut hancur begitu saja tanpa bisa dinikmati oleh anak cucu kita kelak, maka pemerintah Provinsi DIY dibawah naungan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia merehabilitasi bangungan bersejarah dan mengembalikan gairah budaya yang ada di Kotagede.

Perjalanan saya bersama rekan kelompok yang dinamai tlusap-tlusup karena kita memang hanya melawati jalang gang kecil, dan mobil jarang bisa lewat sehingga lebih nyaman dan hemat menggunakan sepeda tanpa mesin, dan yang pasti ramah lingkungan. Dengan gaya bak detektif conan, kita mencari sendiri lokasi-lokasi wisata di Kotagede dengan hanya berbekal peta kawasan pusaka kotagede. Lokasi pertama yang saya lewati adalah aliran Sungai Gadjah Wong, ternyata kawasan sungai tersebut telah dijadikan obyek pemancingan bagi penduduk sekitar. Konon, lokasi ini sering dijadikan tempat lomba mancing. Memang saat itu banyak sekali sederetan orang yang duduk memegang tongkat pancing sedang setia menunggu ikan terjerat kail. Tujuan kedua sempat mengalami kebingungan, mau kemana? Tiba-tiba saja kita sudah sampai di depan Omah UGM (yang artinya: rumah UGM) yang merupakan rumah tradisional seluas 750 m2 dan sempat mengalami kerusakan saat gempa. Pascagempa, Universitas Gadjah Mada membeli rumah tersebut dan sekarang dijadikan salah satu pusat kegiatan kebudayaan UGM. Di dalam omah UGM kita bisa menjumpai aneka jenis hasil kerajinan dari kayu, dan perak yang merupakan hasil program livelihood (kerjasama Fakultas Tehnik-Jurusan Arsitektur dan Perencanaan dengan Exxon Mobile Oil) dari pengrajin Kotagede.

Dari Omah UGM, kembali tlusap-tlusup menuju Omah Kalang, sebutan bagi rumah zaman dulu yang dimiliki oleh saudagar besar. Dari gaya arsitektur, rumah ini sekilas tampak seperti rumah perpaduan gaya Hindu dengan sentuhan etnik Tiong hoa dan terlihat mewah. Karena tidak bisa memasuki dalamnya rumah (pastinya akan sangat menarik), kembali mengayuh sepeda hingga berhenti di Dalem Sopinggen. Sekilas, saya bingung bangunan yang disebut Dalem Sopinggen, karena yang terlihat ada bekas pendopo yang kurang terawat yang dulunya milik Ahmad Dalem Sopingi, digunakan sebagai tempat singgah kerabat raja dari Solo dan Yogyakarta yang akan berziarah ke kompleks makam Panembahan Senopati. Tak jauh dari Dalem Sopinggen ada rumah yang digunakan untuk kegiatan pelestarian budaya yaitu Yayasan Kanthil yang merupakan organisasi masyarakat pelestari.

Kukayuh lagi sepeda kumbangku, kali ini kita berhenti di Langgar Dhuwur Boharen. Apa itu? Langgar atau tempat ibadah kaum muslim, itu letaknya di loteng di beberapa rumah tradisional, nah yang saya lihat ini letaknya di atas rumah. Tidak jauh dari langgar tersebut, ada rumah joglo milik KH. Abdul Kahar Muzakkir, seorang tokoh nasional dari kalangan Muhammadiyah di Kotagede. Sepanjang jalan di dalam wilayah Desa Jagalan, ternyata banyak sekali ditemukan situs. Ada 3 situs, yaitu Situs Cepuri, Situs Bokong Semar yang struktur bentengnya mirip bokong semar dan Situs Watu Gilang yang berupa batu berbentuk pipih berukuran 140x119x12,5 m. Konon, batu ini diyakini sebagai tempat duduk Panembahan Senopati saat melakukan tapa broto (semedi) dan terkenal dengan sebutan Cungkup Watu Gilang. Dekat dengan Cungkup Watu Gilang, terdapat pemakaman Hastarengga yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono VIII untuk kompleks makam keluarga dan keturunan. Di kompleks makan yang cukup luas ini, kita rehat sejenak dengan mengitari setiap sudut kompleks. Untuk lokasi makam sendiri tertutup bagi umum, jika ingin masuk bagi perempuan harus menggunakan baju kemben dan laki-laki menggunakan surjan untuk menjaga kekhidmatan saat berada di dalam makam.

Dok : Gunkarta

Selain makam Hastarengga, terdapat pula Kompleks Masjid Agung Kotagede yang dibangun pada masa pemerintahan Panembahan Senopati (1575 – 1601 M) serta Between 2 Gates yang terletak di Alun-alun, merupakan istilah untuk menyebut satu tata bentuk sistem lingkungan kampung Kotagede. Namun, yang membuat saya tiba-tiba berdecak kagum ketika saya melihat Babon Aniem. Saya pikir, bangunan ini adalah sangkar burung raksasa yang ternyata bangunan bekas gardu listrik pada zaman Belanda.

Selain terkenal dengan wisata sejarah dan budaya, ternyata Kotagede jugas terkenal dengan wisata kulinernya. Mau bukti? mulai dari camilan kue Kipo, Wingko dan Yangko. Ada juga Cokelat Monggo yang dibuat oleh orang Belgia asli, dengan citarasa mendekati coklat aslinya. Dari nama dan bungkusnya pun sangat kental dengan ciri budaya jawa dan kota Jogja. Kemudian, di bekas rumah kalang yang terkenal dengan sebutan Omah Dhuwur (karena struktur bangunan di bidang tanah yang tinggi) juga merupakan restoran yang cukup terkenal, beberapa menu pilihan ayam kampung kremes dan sop buntut ditemani wedhang anget seperti jahe atau secang atau jamu layak Anda coba. Tak puas dengan sajian di Omah Dhuwur, di Lapangan Karang terdapat sate karang, yaitu sate sapi yang disajikan dengan lontong berkuah. Sate ini dapat dinikmati mulai dari sore hingga malam hari. Nah jika ingin mencicipi mimuman, ada warung Sido Semi yang terkenal dengan es campurnya.

Wah ternyata sehari keliling Kotagede membuat mata saya lelah dan kanker. Gimana tidak, setelah melihat-lihat bangunan tradisional, mencicipi makanan pastinya kurang lengkap jika tidak melihat-lihat kerajinan perak dan akhirnya membuat kantong uang semakin kering alias kanker.  Tapi pastinya kepuasan adalah hal yang paling sulit dicari.

10 thoughts on “Tlusap-tlusup Kotagede”

  1. ingin rasanya hidup di jogja lagi…
    di jogja banyak jalan2…
    ingin tlusap tlusup lagi kayak dulu…
    thanks bos info jogja nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s