Tag Archives: Kepunahan

”STOP Hobi Eksploitasi Elang Atas Nama KONSERVASI!!!”

Yogyakarta, 11 April 2013—

Akhir-akhir ini semakin marak komunitas yang menggunakan satwa dilindungi dengan mengatas namakan konservasi dan salah satunya yang terkenal adalah Raptor Club Indonesia. Komunitas tersebut memiliki sistem keanggotaan dimana masing-masing anggotanya memiliki minimal 1 (satu) ekor satwa dilindungi. Bisa terbayangkan berapa jumlah satwa dilindungi yang ada di komunitas tersebut.

LAPS_Konservasi2

Liga Anti Perdagangan Satwa (LAPS) terdiri dari JAAN, WCS, Suaka Elang, IAR, ProFauna Indonesia, LASA, COP, AFJ, FHK, PPSC, ASTI sebagai kumpulan berbagai organisasi peduli satwa sering mendapatkan pengaduan dari masyarakat tentang semakin sering dijumpai komunitas tersebut mengadakan gathering dengan membawa satwa tersebut dengan melakukan berbagai atraksi satwa. Continue reading ”STOP Hobi Eksploitasi Elang Atas Nama KONSERVASI!!!”

Elang Ular Bido “Permata” Pegunungan Seribu Yang Kian Meredup

Pegunungan Seribu merupakan salah satu Zona dari tiga Zona di daerah Kabupaten Gunungkidul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Zona Pegunungan Seribu ini merupakan pusat daerah wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul, seperti Pantai Baron, Kukup, Drini, Siung, Sundak, dan masih banyak lagi.

Pegunungan Seribu merupakan daerah karst yang sangat berbeda dengan daerah lain seperti pegunungan ataupun hutan. Daerah karst merupakan daerah yang ekstrim dengan kondisi lingkungan yang tidak biasa/normal. Daerah dengan curah hujan rendah, suhu yang tinggi  dan lapisan tanah yang tipis menyebabkan sedikitnya vegetasi/tumbuhan yang mampu hidup. Hal ini pula yang mengakibatkan sedikitnya burung pemangsa yang mampu hidup disana. Namun ada beberapa keistimewaan dari daerah karst yang sangat mendukung untuk hidup beberapa burung pemangsa. Banyaknya gua sebagai habitat atau tempat berlindung beberapa hewan seperti kelelawar, burung kecil seperti wallet, ular, bahkan tikus mampu berperan sebagai sumber makanan yang cukup bagi burung-raptor. Salah satu burung pemangsa yang mampu hidup di Gunungkidul adalah Elang Ular Bido. Continue reading Elang Ular Bido “Permata” Pegunungan Seribu Yang Kian Meredup

Pelepas-liaran Penyu Di Pantai Samas Yogyakarta

Kepala BKSDA yogyakarta melepas-liarkan penyu

Selasa 20 Oktober 2009 menjadi hari yang indah di Pantai Samas Yogyakarta bukan hanya karena keindahan pantainya akan tetapi juga karena berhasil dilepas-liarkannya dua ekor penyu dipantai ini. Dua ekor penyu yang terdampar dan diselamatkan nelayan pantai Samas berhasil dikembalikan ke alamnya atas inisiatif BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta) dan Kelompok Konservasi Penyu Bantul. Dua ekor penyu yang dilepaskan adalah Penyu Lekang (Lepidochelys Olivacea) dan Penyu Hijau (Cheolonia Mydas). Continue reading Pelepas-liaran Penyu Di Pantai Samas Yogyakarta

Kukang dan Kehidupannya (by request)

Karena banyak yang meminta artikel tentang kukang, kembali saya posting Kukang dan kehidupannya, semoga bisa membantu pembaca mengenali satwa yang unik dan mulai hilang ini. Selamat membaca.

kukang2

Kukang dan Kehidupannya

Kukang (Nycticebus coucang) adalah salah satu spesies primata dari genus Nycticebus yang penyebarannya di Indonesia meliputi pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Kukang dikenal juga dengan sebutan
pukang, malu-malu atau lori, bersifat aktif di malam hari (nokturnal). Di pulau Jawa terdapat subspesies Nycticebus coucang javanicus, yang penyebarannya meliputi Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan ciri bulu tubuhnya berwarna coklat muda sampai coklat tua, bermata besar menonjol keluar, panjang kepala dan badannya 33 cm dengan bobot badan berkisar antara 300-1500 g. Pada bagian kepala hingga punggungnya terdapat garis coklat tua yang menjadi salah satu cirinya. Tangannya berfungsi sebagai pemegang yang telah berkembang baik.

kukang3

Pengelompokan
Berasal dari Ordo Primate, kukang menempati Sub Ordo Prosimian dan Family Lorisidae. Terdapat sedikitnya tiga spesies di Asia, yaitu slow loris (Nycticebus coucang), pygmy loris (Nycticebus pygmaeus) dan slender loris (Loris tardigardus).

Empat sub spesies dari slow loris yang ada, antara lain Nycticebus coucang bengalensis yang terdapat di Assam, Myanmar, Thailand dan Indo-Cina. Secara morfologi, berukuran besar dengan berat ± 2000g dan berwarna cerah. Nycticebus coucang, tersebar di Malaysia, Sumatera, Thailand bagian Selatan, sebelah Utara Kepulauan Natuna. Berukuran lebih kecil daripada Nycticebus coucang bengalensis, berwarna coklat terang dengan bagian dahi yang lebih gelap. Ketiga, Nycticebus coucang menagensis yang dapat dijumpai di daerah Borneo, Bangka dengan ukuran tubuh relative lebih kecil jika dibandingkan dengan Nycticebus coucang coucang. Terakhir, Nycticebus coucang javanicus, sesuai dengan namanya penyebarannya di Pulau Jawa. Ukuran tubuhnya lebih besar daripada sub spesies lainnya, dengan corak yang tebal pada bagian dorsal (punggung) yang menjadikan perbedaan yang cukup mencolok.

Di Indonesia belum ditemui adanya skema pasti mengenai keberadaan dan distribusi satwa ini. Penduduk lokal bahkan kerap kali keliru menganalogikannya dengan kus-kus. Hal ini dikarenakan keterbatasan dalam penyampaian informasi.

Perilaku
Kukang terkenal dengan kehidupan malamnya (nocturnal) dan memakan beberapa buah-buahan dan sayuran, juga beberapa insecta, ma- mmalia kecil dan bahkan burung. Umumnya mereka meraih makanan de- ngan salah satu tangan lalu memasukkannya ke dalam mulut. Berbeda halnya dengan minum, cara yang dilakukan pun cukup unik. Mereka tidak minum langsung dari sumbernya tetapi mereka membasahi ta- ngannya dan menjiltinya.

kukang1Layaknya hewan-hewan nocturnal lainnya, pada siang hari kukang beristirahat atau tidur pada cabang-cabang pohon. Bahkan ada yang membenamkan diri ke dalam tumpukan serasah tetapi hal ini sangat jarang ditemui. Satu yang unik dari kebiasaan tidur kukang yaitu posisi dimana mereka akan menggulungkan badan, kepala diletakkan diantara kedua lutut/ekstrimitasnya.

Ketika malam hari tiba, kukang mulai melakkukan aktivitasnya. Mereka bergerak dengan menggunakan 4 anggota tubuhnya, pergerakan seperti ini disebut dengan quadropedal ke segala arah baik itu peregrakan vertical ataupun horizontal (climbing). Pada hewan-hewan yang hidup di penangkaran, mereka bergerak memanjat dan mengitari kandang disebut denan aksplorasi. Tak jauh berbeda dengan kehidupannya di alam, kukang yang hidup di penangkaran pun menciumi segala sesuatu / objek yang ditemuinya serta melakukan penandaan / marking dengan urine.

Berdasarkan rekaman hasil penelitian di lapangan,diketahui bahwa kukang hidup secara soliter, walaupun di beebrapa saat ditemui adanya interaksi namun tidak lebih sebatas fase tahapan reproduksi. Masa estrus pada kukang berkisar antara 30-40 hari. Pada hewan betina, jika memasuki masa estrus maka akan lebih sering mengeluarkan suara / vokalisasi berupa siulan. Selain itu, terjadi pembengkakan pada area genitalianya. Jika jantan men dengarkan dan tertarik akan siulan betina, maka jantan kemudian mendekati betina dan me- ngadakan kopulasi. Masa kehamilan atau gestation periode selama 176 sampai 198 hari atau kurang lebih selama 6 bulan.

Populasi dan Status
Populasi kukang di alam saat ini diperkirakan cenderung menurun yang disebabkan oleh perusakan habitat dan penangkapan yang terus berlangsung tanpa memper-dulikan umur dan jenis kelamin.
Penangkapan kukang yang tidak terkendali terutama untuk diperdagangkan sebagai hewan peliharaan (pet animal). Akibatnya kukang sekarang termasuk kategori spesies terancam punah dan dilindungi Undang-undang dalam Konvensi CITES Appendix II.

Kukang tergolong satwa pemakan segala (omnivora), seperti halnya dengan primata lainnya pakan utama adalah buah-buahan dan dedaunan. Namun demikian kukang di habitat aslinya,
juga memakan biji-bijian, serangga, telur burung, kadal dan mamalia kecil.

Hari Bumi 2009 “Bumiku Sayang, Bumiku Malang” (KANOPI INDONESIA)

kanopi-indonesia-hari-bumi

Tiga puluh tahun yang lalu pada 22 April 1970, hari Bumi untuk pertama kalinya diselenggarakan di Amerika Serikat, atas prakarsa seorang senator, Gaylord Nelson. Embrio gagasan Hari Bumi dimulai sejak ia menyampaikan pidatonya di Seattle tahun 1969, tentang desakan untuk memasukkan isu-isu kontroversial, dalam hal ini lingkungan hidup, dalam kurikulum resmi perguruan tinggi mengikuti model teach in mengenai masalah anti perang. Gagasan Nelson mendapat dukungan yang mencengangkan dari masyarakat sipil.

Dukungan ini terus membesar dan memuncak dengan menggelar peringatan HARI BUMI yang monumental. Majalah TIME memperkirakan bahwa sekitar 20 juta orang turun ke jalan pada 22 April 1970. Nelson menyebutkan fenomena ini sebagai ledakan akar rumput yang sangat mencengangkan’ dimana : ” Masyarakat umum sungguh peduli dan Hari Bumi menjadi kesempatan pertama sehingga mereka benar-benar dapat berpartisipasi dalam suatu demonstrasi yang meluas secara nasional, dan dengan itu menyempaikan pesan yang serius dan mantap kepada para politisi untuk bangkit dan berbuat sesuatu “.

kanopi-indonesia-hari-bumi2

Menurut berbagai analisis ledakan ini muncul karena bergabungnya generasi pemrotes tahun 60-an (bagian terbesar adalah pelajar, mahasiswa, sarjana) yang terkenal sebagai motor gerakan anti-perang, pembela hak-hak sipil yang radikal. Sebuah perkawinan antara pemberontakan 60-an dan kesadaran lingkungan tahun 60-an. Hari Bumi yang pertam ini di Amerika Serikat merupakan klimaks perjuangan gerakan lingkungan hidup tahun 60-an untuk mendesak masuk isu lingkungan sebagai agenda tetap nasional. Kini peringatan Hari Bumi telah menjadi sebuah peristiwa global. Para pelaksana peringatan HARI BUMI menyatukan diri dalam jaringan global masyarakat sipil untuk Hari Bumi yakni EARTH DAY NETWORK yang berpusat di Seattle. Bila Hari Bumi ‘70 pertama paling tidak melibatkan 20 juta manusia di AS, Hari Bumi 1990 melibatkan 200 juta manusia di seluruh dunia, maka pada Hari Bumi 2000 diperkirakan terlibat 500 juta manusia di seluruh dunia dengan jargon “making history – making change”.

Kerusakan alam yang semakin terlihat jelas dengan adanya berbagai bencana yang selalu datang silih ganti mulai dari bencana banjir, tanah longsor dan naiknya permukaan air laut yang disebabkan makin tipisnya lapisan ozon. Semuanya tidak lepas dari campur tangan manusia yang makin brutal dan tidak lagi mempunyai rasa kasih sayang terhadap keadaan bumi khususnya hutan lindung yang merupakam sentral utama kehidupan serta kelestarian alam.
Kerusakan hutan menjadi salah satu penyebab terjadinya bencana lingkungan yang mengontribusi cukup besar terhadap kerusakan infrastruktur sosial dan ekonomi masyarakat. Sudah cukup banyak anggaran yang dialokasikan pemerintah akibat terjadinya bencana lingkungan semacam banjir, tanah longsor, teror asap maupun kekeringan di tengah kondisi perekonomian yang belum pulih pascakrisis.
Sementara itu, kawasan hutan yang tersisa, terus saja terdegradasi kualitas dan kuantitasnya. Tidak sebanding dengan laju keberhasilan rehabilitasi kawasan hutan.
Keadaan tersebut masih diperparah lagi dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang terkesan makin memojokkan grass root dan mengeksploitasi hutan tanpa pikir panjang. Hal itu terlihat dengan jelas dengan disahkannya Peraturan Presiden No. 2/2008. PP ini berisikan tentang Menyewakan Hutan Lindung dan Hutan Produksi Untuk Alih Fungsi Menjadi Pertambangan Skala Besar dan Peruntukan Lain. Sewanya murah, hanya Rp300 per meter. PP ini akan memperparah kerusakan hutan, kembali meletakkan nasib rakyat dan lingkungan pada kerentanan tidak tertanggungkan.
Meskipun demikian, berbagai masalah lingkungan hidup sering tidak menjadi prioritas yang utama dan sering menjadi subagenda yang pada akhirnya larut dan tenggelam dalam tema-tema kampanye semata yang sifatnya lebih luas dan abstrak sehingga memunculkan keprihatinan yang absurd.

kanopi-indonesia-hari-bumi3

22 April 2009, Hari Bumi kembali diperingati.
Salah satu yang melakukannya adalah Kanopi Indonesia. Dengan latar belakang kondisi bumi yang semakin rusak, Kanopi Indonesia mencoba mengingatkan kembali bahwa sudah saatnya kita bersama membangkitkan rasa saling memiliki dan toleransi sesama ciptaan Tuhan. Kini, rasa kearifan manusia dalam mengubah dan mewujudkan kualitas bumi menjadi lebih baik adalah keharusan. Upaya menyelamatkan bumi harus disadari merupakan tanggung jawab bersama dan harus segera diselesaikan. Maka diperlukan suatu kekompakan dan komitmen bersama memecahkan problem tersebut. Sebab, bagaimanapun bumi merupakan habitat yang dihuni semua makhluk hidup.

kanopi-indonesia-hari-bumi5kanopi-indonesia-hari-bumi6kanopi-indonesia-hari-bumi4

Sekilas kegiatan Hari Bumi Kanopi Indonesia

Dalam rangka Hari Bumi yang yang jatuh pada hari Rabu pada tanggal 22 April’09, Volunter kanopi indonesia mengadakan acara
“ Aksi Simpati ’’ dengan tema “Bumiku Sayang, Bumiku Malang”. Pelaksanaan kegiatan Hari Bumi tersebut sebagai wujud apresiasi dari kami sebagai para pemerhati lingkungan terhadap kelestarian Bumi tercinta. Kegiatan ini akan dilaksanakan di Jalan Abu Bakar Ali pukul 09.00-11.00 dalam bentuk orasi, poster, pembagian poster dan stiker. Kostum Elang Jawa yang merupakan ejawantah dari lambang negara Garuda juga akan menemani kegiatan aksi damai ini.
Dengan adanya aksi peduli Bumi ini, diharapkan seluruh aspek masyarakat tergelitik, dan sadar untuk lebih mencintai dan melestarikan bumi ini.
kanopi-indonesia-hari-bumi1

Owa Jawa, Permata Yang Tersisa dan Terlupa

Pulau jawa selain memiliki satwa endemic seperti Elang jawa(Spizaetus bartelsi) ternyata juga memliliki primate yang begitu cantik. Coba kita tengok kehidupan primate jawa yang disebut Owa Jawa( Hylobates moloch). Perburuan dan penangkapan untuk diperjualbelikan dan dipelihara menjadi pemicu semakin berkuranngya populasi owa jawa di alam.

owa2

Secara morphologi owa jawa lebih mudah dikenali jika dibanding dengan jenis primata lainya yang ada dipulau jawa. Owa jawa adalah jenis primate yang masuk dalam keluarga kera yaitu dengan ciri-ciri mempunyai tangan yang panjang dibanding dengan kakinya.

Habitat
Owa jawa lebih menyukai dan lebih banyak mendiami hutan dataran rendah yang mempunyai tajuk pohon yang rapat, salah satunya adalah Taman Nasional Gunung Halimun Salak(TNGHS). Selain memiliki tajuk pohon yang masih rapat, TNGHS merupakan hutan hujan tropis terluas di pulau jawa yang masih tersisa saat ini. Continue reading Owa Jawa, Permata Yang Tersisa dan Terlupa

PERAMBAHAN HUTAN DAN ILLEGAL LOGGING

Oleh : Agustinus Wijayanto
(Pro Fauna Member meeting 2008)

Praktek HPH yang selama ini terjadi, masih jauh dari memperhatikan lingkungan. Setidaknya contoh di Kalimantan Timur, antara 20-50% dari semua pohon yang berdiameter >10 M musnah karena pembalakan HPH, termasuk kerusakan lapisan bawah pohon, semai, anakan. Di hutan-hutan bekas pembalakan beberapa jenis satwa/burung (cirik kumbang, tiong-batu Kalimantan, berencet loreng pelatuk kelabu besar, pelatuk kumis kelabu, dada kelabu hanya 10-30% dari kerapatan di hutan primer. Cadangan hutan produksi di tataran nasional seluas 41, 25 juta Ha dan dari luas tersebut hanya separuh mencukupi bahan baku kayu dari HTI. Kebutuhan industri perkayuan dalam negeri sebesar 58,24 juta m3 per tahun sementara kemampuan produksi kayu bulat hutan Indonesia hanya 25,40 juta m3 per tahun. Ada kesenjangan sebesar 32,84 juta m3 per tahun yang harus dipenuhi agar industri perkayuan tetap berjalan normal. Lalu, darimana kayu diperoleh untuk menutup kesenjangan tersebut? Contoh lain, ternyata luas hutan di Jawa Barat makin berkurang cukup signifikan. Hal ini didasarkan lembaga penelitian UNPAD bahwa berdasarkan pantauan satelit, hutan yang tersisa tak lebih dari 10 %, sementara data yang ada dari lembaga terkait mencatat masih 22 %.

picture8

Penyebabnya adalah kegagalan garakan rehabilitasi lahan kritis. Kawasan hutan mangrove Indonesia dari total 9 juta Ha ternyata 6,6 juta Ha telah ditebangi untuk berbagai kepentingan, hingga saat ini hanya tersisa 2,4 jt Ha yang tersebar di kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Papua, dan sedikit di Jawa. Penurunan kualitas tutupan hutan mencapai 59,6 juta Ha. Namun Pemerintah justru mengeluarkan legalitas alih fungsi hutan lindung (PP No. 2 2008 tentang ”Penerimaan Negara Bukan Pajak” dari alih fungus HL. Menurut catatan Greenomics, deforestasi di HL mencapai 10 juta Ha setara dengan 170 T/tahun. Pembalakan liar juga dilakukan oleh HPH yang menebang di luar RKT yang sudah disahkan kemudian terjadi re-logging siklus tebang 35 tahun tapi pada prakteknya banyak kembali menebang jauh sebelum siklus itu berakhir, cuci mangkok. Kerusakan hutan juga terjadi di kawasan hutan lindung, sebagai kawasan yang harus tetap dipertahankan keberadaannya. Continue reading PERAMBAHAN HUTAN DAN ILLEGAL LOGGING